Terbit di Suara Merdeka, 23 Mei 2019 dengan judul “Keistimewaan” Sarjana Sosial

Hari ini (15 Mei 2019) media sosial kita ramai dengan kelulusan doktor baru dari Indonesia di Universitas Harvard, Amerika Serikat. Sukidi Mulyadi, begitulah namanya. Seingat saya, Sukidi adalah satu dari dua pendekar studi Islam dari Indonesia yang belajar di Harvard bersama dengan Ulil Absar Abdala. Sukidi konon mewakili kolega dari Muhammadiyah dan Ulil menjadi representasi teman di Nahdlatul Ulama. Belasan tahun sudah saya mendengar informasi tentang perjuangan studi Sukidi, dan kabar kelulusannya kini begitu massif tersiar.

Bagi sebagian kita, mungkin kelulusan doktor dari kampus ternama adalah hal biasa. Dan memang sudah begitu banyak sarjana kita yang menyelesaikan studi di perguruan tinggi papan atas dunia. Hanya saja yang menjadi perhatian menarik saya untuk kasus Sukidi adalah ternyata selama studi hampir tidak ditemukan jejak publikasinya. Di Google Scholar, artikelnya juga tidak banyak. Di lima halaman pertama Google Scholar, hanya ditemukan beberapa artikel dengan namanya. Di laman Scopus, ada. Tetapi apa yang ditulis tidak bisa dilacak langsung. Yang menunjukkan bahwa artikel yang ditulis baru saja diterbitkan dan diindeks Scopus.

Apa yang terjadi dengan publikasi jejak Sukidi sebenarnya adalah hal wajar. Hezri Adnan salah seorang peneliti cemerlang Malaysia dengan h-indexScopus 8 yang dicapai hanya dengan 16 artikel pernah berseloroh, “Master itu latihan membaca, Doktor itu latihan menulis”. Jadi, sebenarnya wajar jika mahasiswa Doktoral (apalagi Master), belum menerbitkan artikel ilmiah. Tetapi tidak masuk, kalau kita bandingkan dengan di sini, saat mahasiswa Master dan Doktoral dipaksa banting tulang untuk menerbitkan artikel terindeksScopus untuk syarat kelulusan.

Ilmu yang Terbelenggu

Dunia akademik kita saat ini seolah sedang terbelenggu oleh capaian-capaian semu. Akademisi dan peneliti berlomba-lomba untuk saling menerbitkan publikasi. Baik dengan kualitas yang memadai maupun kualitas pas-pasan. Baik dikerjakan bersama secara profesional maupun dengan cara-cara yang cenderung tidak mengindahkan kaidah ilmiah. Pun demikian dengan lembaga-nya, semua berebut untuk mencapai puncak ranking dengan menggenjot terbitan para stafnya tanpa mau tau bagaimana proses yang dilalui sesungguhnya. Prinsipnya: yang penting bertambah terbitan terindeks Scopus.

Masalah kemudian muncul. Ketika semua hal berkenaan dengan keilmuan diarahkan ke indeksasi Scopus, maka mau tidak mau semua akademisi dituntut untuk mengarahkan terbitannya ke sana. Pemaksaan secara terpaksa ini kemudian menjadi mudah untuk beberapa kolega di kalangan Sains dan teknologi (Saintek)dan multidisiplin. Namun begitu rumit bagi teman-teman di Sosial Humaniora (Soshum).

Fenomena ini nampak jelas terlihat misalnya ketika kita merujuk pada laman Sinta Dikti, beberapa kolega dari saintek dalam satu tahun bisa menambah jumlah dokumen 5,10 artikel, bahkan lebih. Sedangkan sosial-humaniora, bisa dihitung jari. Itu pun jika sial, kita malah ketemu artikel yang salah nangkring.Tulisan Soshum tetapi diterbitkan di penerbit Saintek.

Begitulah realitasnya, belenggu Scopus pada penilaian capaian menyebabkan akademisi dan peneliti tidak lagi peduli soal kesesuaian artikel dengan peeratau konstituen pembaca. Mereka justru semata disibukkan dengan pertanyaan bagaimana caranya agar bisa menambah dokumen Scopus tadi. Oleh karenanya, dengan kapasitas keilmuan yang sama, akademisi dan peneliti Saintek lebih diuntungkan dengan adanya bias keilmuan berbasis Scopus ini.

Mereka bisa menerbitkan artikel di jurnal dan prosiding secara tertib dan sesuai keilmuan, sedangkan kolega Soshum hanya bisa mengejar melalui jurnal terindeks Scopus. Ini persisseperti yang disinyalir oleh Bankovsky (2019) ketika mengkaji penerbitan di keilmuan Politik. Kompetisiyang ada malah mendegradasi mutu akademik. Alih-alih memperdebatkan argumen dan temuan, kita malah dilenakan pertanyaan quartileberapa pada jurnal yang menerbitkan artikel.

Mengembalikan Peran Peer dan Asosiasi

Kembali ke Sukidi. Meskipun tanpa publikasi yang melimpah ruah, nampak bahwa apresiasi atas dirinya begitu tinggi. Kolega serumpun menuliskan ucapan selamat sekaligus harapan bahwa dia akan memberi wacana baru bagi diskursus keilmuan yang ada pada kalangan mereka. Bahkan tidak sedikit yang sudah bersiap untuk merekrut seandainya setelah lulus berkeinginan untuk mengabdi di tanah air. Peer-yang dimiliki begitu perhatian, seperti paham betul bahwa meskipun tanpa jejak publikasi memadai, keilmuannya pasti terjamin.

Kita bisa bandingkan misalnya dengan beberapa kolega yang memiliki dokumen publikasi Scopus puluhan dan h-indeksScopus tinggi. Menerbitkan artikel setahun bahkan tidak kurang dari lima buah. Tetapi mereka hampir tidak pernah terdengar namanya di asosiasi keilmuan mapan atau lembaga ternama. Coba kita cek kolega kita yang terbitkan artikel Scopus bejibun itu. Apakah ada yang menjadi anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, menjadi peneliti di lembaga strategis seperti Centre for Strategic and International Studies, atau direkrut untuk mengajar dan meneliti di lembaga riset papan atas dunia? Jika jawabannya ada, syukur alhamdulillah.Benar-benar sarjana pilihan.

Di sisi lain, khususnya untuk Ilmu Politik misalnya. Menjadi ketua Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Asosiasi Prodi Ilmu Politikatau Konsorsium Peneliti Politik Indonesia saya lihat tidak melulu karena perlombaan kuantitatif. Ketua asosiasi terpilih lebih kepada ‘kepercayaan’ peeratas keilmuan, bukan pada banyak-banyakan dokumen Scopus. Selain itu didasarkan pada jejaring yang dimiliki oleh anggota-anggota di dalamnya, sekaligus pengalaman kolaborasi riset skala nasional dan internasional.

Karena rumpun Soshum yang begitu terbatas pilihan publikasinya, maka beruntunglah bagi akademisi peneliti yang mampu terus produktif. Penilaian atas keilmuan sudah semestinya tidak lagi pada angka-angka, melainkan pada bagaimana pengakuan peerdan asosiasi atas capaian mereka. Hal yang memang tidak mudah juga, mengingat tradisi profesional dalam berdialog keilmuan serta mengaktifkan asosiasi baru sebatas pada seremonial saja.

Jalan yang berat namun harus ditempuh saat ini bagi akademisi peneliti Soshum adalah mendorong partisipasi asosiasi dalam berbagai kegiatan akademik. Mengubah tradisi yang hanya sebagai ajang kumpul-kumpul menjadi organisasi dengan dinamika akademik memadai. Asosiasi misalnya bisa terlibat secara aktif dalam pengelolaan jurnal ilmiah. Bergabung pada event seminar-seminar yang diselenggarakan oleh anggotanya secara substantif. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kualitas riset, juga penerbitan ilmiah bersama. Asosiasi tidak boleh lagi sekadar menjadi pemanis website jurnal dan program studi ataupunflyer kegiatan akademik. Apalagi hanya gagah-gagahan kartu anggota!