Ketika kita menyatakan cinta dan langsung diterima, pertanyakanlah. Karena hal yang berkualitas seringkali didapat melalui banyak pengorbanan dan serangkaian perjuangan.


Setelah saya tunggu beberapa hari, akhirnya postingan tentang gugatan ‘kewajiban tunduk’ pada Scopus mampir juga di salah satu grup WA yang saya ikuti. Dilihat dari SS yang diunggah, ada beberapa orang yang setuju dengan pandangan ini, ada juga yang menolak, juga tidak sedikit yang tidak ambil pusing. Saya sendiri sebenarnya bukan kali ini berada dalam ruang perdebatan kewajiban ber-Scopus ini. Sekira 6-7 tahunan yang lalu saya sudah mendapat wasiat dari kolega untuk mulai memasang target menulis artikel di jurnal ter-index Scopus. Walopun sampai sekarang blom tembus juga! Hahaha Ampun..

Sebagai orang yang sudah berjuang beberapa tahun terakhir untuk menjebol ini standar dan gatot (alias gagal total), saya merasa ada yang menggelitik dari diskursus soal ‘berhala’ Scopus ini. Saya melihat ada dua kategori penolak Scopus. Pertama, sebagian kita yang benar-benar menolak. Dan kedua yang menolak secara setengah hati. Yang bersetuju kagak usah kita bahas ya..

Menolak secara sepenuh hati bisa saya maksudkan bagi beberapa orang yang memang sudah malang melintang di dunia persilatan penulisan artikel ilmiah dan menembus jurnal ter-index Scopus (bahkan ISI Thompson), sehingga kemudian mereka merasa bahwa persyaratan ini adalah ‘tidak masuk akal’. Mereka beranggapan bahwa keilmuan tidak perlu distandarisasi oleh Scopus dkk. Mereka dalam hal ini melakukan perlawanan intelektual atas hegemoni pasar database index. Mungkin beberapa teman pernah mendengar gugatan dari beberapa akademisi di Eropa berupa boikot Elsevier. Nah, mereka-mereka inilah yang barangkali masuk dalam mazhab: penggugat setelah menaklukkan.
Versi lain dari penggugat standar Scopus adalah yang menolak setengah hati.

Biasanya, biasanya lho ya, yang melakukan ini adalah teman-teman yang belum pernah lolos mempublikasikan artikelnya di jurnal yang ter-index Scopus. Apa boleh buat ya kan? Mau menembus Scopus susahnya setengah kopling, tapi iming-iming bonus sampai puluhan juta rupiah. Akibatnya apa, beberapa akademisi melakukan potong kompas. Cari mudahnya. Sebagian menerbitkan di jurnal-jurnal yang memang terdaftar di Scimago JR, tapi ternyata tidak diakui DIKTI karena masuk dalam kategori jurnal predator. Untuk yang ini, barangkali bisa kita masukkan dalam mazhab: ingin hati memeluk cinta, apa daya masih LDR kita. Wkwkwk

Lalu, apa menariknya dari perdebatan ini, di saat Malaysia dan Singapura yang konon kita ‘kejar’ justru sudah mulai naik kelas ke ISI Thompson? Menurut saya, ada yang perlu didudukkan dengan kursi yang empuk, kepala yang dingin, gorengan dan kopi hangat tanpa sianida pastinya. Bahwasannya kita sedang dihadapkan pada dua hal penting: Proses dialog keilmuan dan Apa harus Scopus?

Proses dialog keilmuan
Saya sendiri, ketika mulai meneliti secara serius tidak langsung diwajibkan menulis di jurnal Scopus oleh kolega. Kolega justru malah berpesan, “Tahapmu saat ini (setingkat master) adalah latihan menulis. Nanti setelah lulus S3 baru kamu menulis secara serius.” Dan betul kiranya (paling tidak pengamatan saya kepada bbrp teman) di beberapa negara, menulis dan publikasi artikel ilmiah menjadi keharusan selama (atau setelah lulus) S3. Memang ada beberapa negara lain yang sudah mewajibkan penulisan artikel ter-index Scopus di level master, tapi biasanya bukan dari negara-negara yang menjadi kiblat keilmuan seperti US, Eropa, Jepang maupun Australia.

Apa daya, saat itu petuah kolega dan aturan institusi berlainan arah. Akhirnya saya pun mulai spik-spik kasak kusuk nulis ke sana kemari. Walopun hasilnya nihil. Mulai dari hasil review yang cuma bilang ‘Ini ga ada kebaruan’, ‘Ini ga menarik”, ‘Tulisannya ga akademis’ dst.. Beruntungnya punya kolega reviewer jurnal adalah mereka terbiasa memberi komentar apa adanya, kagak pake basa basi. Kejam dan kecut memang, tapi insyaAllah baik untuk kita ke depan. Cekap aos, saya berpisah dengan kolega tanpa satu pun artikel ter-index Scopus. Apakah saya kemudian mengutuk dan memboikot ‘kewajiban’ Scopus? Tidak, saya justru semakin tertantang untuk menerbitkan artikel ‘berkualitas Scopus’ kalo kata teman. Entah apa maksudnya. Ada-ada saja.

Apa harus Scopus?
Sebenarnya ada pertanyaan lain yang juga mengusik disamping ‘Apa harus Scopus?’. Pertanyaan itu adalah ‘Mengapa harus Scopus?’ Saya pilih pertanyaan pertama, mengingat pertanyaan kedua biasanya akan menggiring opini kita bahwa Scopus adalah satu-satunya alat ukur kualitas tulisan. Lebih jauh, kita akan dibawa suudzon bahwa seolah-olah database ini telah membuat kita terpenjara dalam sebuah sistem yang tidak memanusiakan akademisi karena suatu paksaan.

Pertanyaan ‘Apakah harus Scopus’ membuat kita bisa berpikir lebih rileks, tidak banyak suudzon dan membuka cakrawala lebih luas. Pertanyaan ini jelas jawabannya tidak. Setau saya ada banyak jurnal di dunia ini yang tidak ter-index Scopus namun menampilkan artikel-artikel berkelas. Termasuk di dalamnya adalah tulisan-tulisan pakar. Di Jerman ada GIGA Hamburg (Journal of Current Southeast Asian Affairs) misalnya. Di US, tepatnya di Cornell University, ada jurnal Indonesia. Atau di Indonesia sendiri kita kenal jurnal Prisma. Lebih mudah lagi, seandainya kita mau usil bertanya, ‘Emang Einstein, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, maupun ilmuwan lainnya peletak tonggak keilmuan menuliskan artikel di jurnal ter-index Sopus?’ Pasti jawaban usil kita juga akan sama: Kagak cuy!

Jadi apa yang kita pertanyakan tentang kewajiban tunduk pada Scopus itu menurut saya tidak harus. Namun demikian, karena iklim kompetisi yang sedemikian ketat dan proses seleksi karya-karya berkualitas sebagai rujukan ilmu juga semakin berat, maka database Scopus ini menjadi keniscayaan. Bahkan lebih jauh, sebagaimana target kita untuk kompetitif di tingkat ASEAN dan global, maka kita memang mau tidak mau memasang target yang lebih tinggi. Indonesia ke depan harus mewajibkan akademisinya menulis di artikel ber-index ISI Thompson. Yang penting tidak harus Scopus tho?

Ter-index ataupun tidak, persoalan sesungguhnya ada pada kejujuran niat akademik kita. Ketika kita melakukan riset, ketika kita melakukan publikasi, ketika kita menemukan nama kita ada di daftar penulis-penulis artikel yang menjadi rujukan akademisi lain. Apakah hanya sebatas untuk dapet honor tambahan gaji? Atau untuk kenaikan pangkat? Ataukah hanya untuk gensi-gengsian? Ataukah untuk berbagi pengetahuan dengan khalayak yang lebih luas? Maupun berbagai kemungkinan lain yang hanya masing-masing kita sendiri yang tau. Bagi saya yang terpenting adalah kita berusaha memberikan informasi dan pengetahuan baru dan terbaik kepada khalayak luas.