Sesekali kita memang perlu merasa paling hebat. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menguji. Apakah kita benar-benar mumpuni atau sebatas kepedean yang kelewat tinggi? Sesekali kita perlu merasa paling benar. Bukan untuk menyalahkan yang lain, tapi untuk mengkonfirmasi. Apakah pengetahuan kita itu bisa dipertanggungjawabkan, atau kita sebatas taklid buta tanpa landasan?


Suatu pagi, seorang teman datang berkunjung. Dia mengajak saya untuk mendiskusikan penelitian untuk tugas akhirnya. Tema yang diambil menarik. Selain memang beririsan dengan kerja saya selama ini. Juga apa yang menjadi temuan awal dia sejalan dengan riset yang hendak saya kerjakan.

Obrolan ini menjadi sedikit menggelitik, ketika dia memulai panjang lebar penjelasan kajian yang mau dikerjakan. Pada titik tertentu, dia berseloroh santai, “Ini kalo jalan bisa jadi teori baru, pak!” Well, saya sedikit mengernyitkan dahi, mencoba untuk memahami apa yang dia maksud dengan ‘jadi teori baru’.

Saya sendiri tidak hendak menganggap dia terlalu lebay. Kenapa? Karena saya justru teringat momen sekira 10 tahun lalu, ketika mengajukan proposal penelitian untuk sekolah. Sama seperti teman ini, saya menganggap (saat itu) riset saya akan memunculkan teori baru. Blaaarr! Warbiyasak kalo kata teman. Lha kalo saya bilang dia lebay, saya juga dong? Haha.

Singkat kata, obrolan saya dengan teman ini selesai. Tuntas. Setelah saya menjelaskan bahwa penelitian yang akan dia kerjakan sudah ada yang meneliti. Bukan sesuatu yang baru. Buka internet, ada beberapa artikel yang bisa dia unduh untuk dijadikan referensi. Kurang lebih sama seperti saya dulu. Ketika saya merasa akan buat teori baru, kolega (pembimbing saya lebih suka menganggap mahasiswanya sebagai teman) mengirimkan satu artikel untuk saya review. Artikel yang kira-kira berumur 5 tahunan. Artinya juga sama, riset yang akan saya jalankan saat itu ‘bukan hal baru’ apalagi bakal jadi teori baru.

Dua kasus ini kemudian saya pikirkan selama perjalanan sepulang kampus sambil menuju kota tempat istri saya sekolah. Saya menemukan dua hal penting: Pertama, teman saya ini orangnya antusias terhadap pengetahuan baru. Dia tertarik pada isu-isu yang barangkali sebagian besar temannya tidak terpikir. Kedua, dia memiliki kelemahan dalam penguasaan bahasa asing, sehingga wawasannya terbatas pada apa yang sudah dikerjakan di negara yang bahasanya dia kuasai. Sekali lagi, sama seperti saya. Ndak apa-apa, biasa aja keleus. Apalagi mengingat umurnya yang (insyaAllah) masih cukup panjang untuk banyak belajar.

Barangkali bisa dikatakan, ketika kita hendak mendalami satu ilmu, kita perlu memiliki dua hal tersebut. Jika seseorang memiliki rasa ingin tau yang cukup tinggi, tentu dia tidak akan mudah puas terhadap apa-apa yang didapatkan. Dalam kasus ini, bisa jadi seseorang tidak akan mengikuti alur berpikir kebanyakan orang. Dia akan menjadi diri sendiri yang orisinil. Kalo kata Einstein sih “The most important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for existance.” Mau tidak mau, kita harus mempertanyakan sesuatu. Hingga pada titik tertentu, hal itu bisa dikonfirmasi. Dan kita akan menjadi bagian penemuan-penemuan itu. Persoalan impact-nya signifikan atau tidak, dipikir belakangan. Yang penting kita berkontribusi pada bertambahnya pengetahuan baru.

Untuk bahasan penguasaan bahasa asing, menurut saya ini juga tidak kalah penting. Oke deh, ada yang bilang sebaliknya. Tapi kalau sudah berbicara tentang pengetahuan yang bersifat universal, saya kira menguasai bahasa asing menjadi penting. Penguasaan bahasa asing berarti kita bisa membaca karya banyak orang di luar negara kita (atau setidaknya artikel di luar bahasa ibu kita). Membaca karya berarti akan membuat ruang diskusi dinamis. Kita tidak bermudah-mudah melakukan klaim secara serampangan.

Beberapa negara memang memiliki kekhasan bahasanya sendiri untuk pengetahuan. Sebut saja Jerman, Jepang, Tiongkok, Prancis, Spanyol, Arab, dan juga Melayu selain yang umum kita ketahui: Inggris atau US. Kemampuan berbahasa ini tidak semata untuk menyampaikan ide searah. Tetapi akan memudahkan kita berdialog secara lebih intens dengan orang lain di luar sana. Buat saya, mempelajari bahasa asing sama seperti orang merantau. Bedanya, kita tidak perlu hadir secara fisik, melainkan kita menjelajahi ide-ide yang terhampar di muka bumi. Dan tentunya, kita akan menemukan banyak hal baru.

Imam Syafi’i pernah berpesan, “Merantaulah. Orang berilmu dan beradab, tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hiduplah di negeri orang.” Jika kita mampu merantau secara fisik, tentu akan menarik. Tapi, merantau dalam belantara pengetahuan saya kira juga tidak kurang asyik.